Rabu, 01 Mei 2013

FEATURE



NAMA            : SUKRIAN
NIM                : 153111088

Panorama Keindahan Pantai Pink
Tujuan perjalanan saya dan teman-teman kali ini adalah menyusuri pantai di sepanjang jalur timur ke selatan Lombok. Kali ini saya sebagai warga lotim membawa teman kampus yang sudah lama sekali merencanakan perjalanan ke pantai pink.
Usai sarapan dengan menu makanan yang sederhana, kami pun melajukan sepeda motor. Perjalanan yang sempat terhenti akibat ban bocor sempat mencemaskan. Perjalan akan jauh dan jalan yang dilalui akan lama, berpasir, berdebu dan berbatu. Tapi karena semangat, kami pasrahkan semuanya pada tukang tambal ban dan bensin eceran yang mudah-mudahan banyak kami temui di jalan nanti.
Karena perjalanan masih jauh. Kami pun berangkat, menyusuri jalan yang terlihat baru diaspal dan membentang di sampaing pantai-pantai Lombok Timur menuju Lombok bagian selatan. Hampir putus asa, sebab beberapa pantai yang kami temui sepanjang jalan itu belum satu pun yang merujuk ke Pantai Pink.
Bahkan saya sebagai penduduk Lombok Timur pun belum pernah berkunjung ke Pantai Pink. Dari beberapa info, patokan pantai ini adalah dekat Pantai Surga, Pantai Cemara dan Tanjung Ringgit. Beberapa nama pantai itu memang cukup familiar dan saya tahu jalurnya.
Tapi karena Pantai Pink masih menjadi tujuan baru, tak banyak info yang bisa didapatkan. Bahkan di papan penunjuk jalan yang menuju pantai lainnya. Pantai Pink tidak ikut disertakan. Menurut penduduk yang kami jumpai di jalan, Pantai Pink bernama asli Pantai Tangsi. Namun karena pasir pantainya yang berwarna pink, maka tenarlah ia disebut sebagai Pantai Pink.
Sepanjang jalan kami juga melihat perkebunan yang mengeluarkan aroma tembakau khas Lombok. Juga beberapa pantai di kawasan yang dijadikan sebagai tempat pembuatan garam. Di sana kita bisa melihat tembakau menghijau, atau jemuran tembakau-tembakau kering yang sudah menguning di pinggir jalan. Angin masih meniupkan aroma bacin dan asin laut."Masih jauh, terus saja ikuti jalan," begitulah rata-rata jawaban yang diberikan kepada penduduk setempat ketika kami bertanya. Hampir frustasi, kami berbelok ke kiri dari jalan di Pasar Kruak setelah pasar ikan di dermaga Labuhan Tanjung Luar yang sempat kami kunjungi.Tiba di Kecamatan Jerowaru, kami dihadapkan pada jalan batu, pasir dan debu. Inilah jalan panjang menuju Pantai Pink seperti yang diterangkan warga yang kami jumpai di sepanjang jalan. "Silakan menyeberang sini," ucap beberapa penduduk yang kami tanyai di jalan.
Jalan yang jelek tak jadi hambatan, kami laju terus, meski sesekali takut tergelincir dan ban pecah. Sebab tak mungkin ada penolong di daerah itu. Mata juga tak pernah luput dari hajaran pasir dan debu yang diterbangkan oleh mobil dan motor, atau kendaraan melintas di depan kami.
Setelah setengah jam perjalan, kami memasuki jalan yang sekelilingnya ditumbuhi pohon sejenis akasia. Pohon yang berderet rindang, rapi, seolah menjadi pengawal penunjuk arah.
Beberapa teman terlihat mulai putus asa dan bosan. Tapi, saya percaya ketika sampai di pantai, rasa lelah kami akan terobati. Maka kami akhirnya menemukan plang kecil Pantai Pink. Kami harus menuruni jalan terjal berdebu untuk sampai pantai itu. Dengan sepeda motor matik dan bebek, kami paksakan juga turun. Sekitar dua ratus meter di balik kepulan debu itulah Pantai Pink terbentang.
Dengan kaki dan motor berdebu, kami akhirnya menginjak Pantai Pink. Pantai yang kami buru sejak hampir dua jam yang lalu. Memang sepi, setidaknya hanya dua mobil dan hanya beberapa motor yang parkir di sana. Hanya ada satu warung kecil dengan persedian makanan seadanya, seperti soft drink, air mineral dan tentu saja popmie.
Karena datang agak siang, pasir pantainya tidak terlihat terlalu pink. Konon kalau datang pagi atau sore, terpaan sinar matahari yang agak jingga akan membuat warna pink terlihat mencolok di pantai itu. Tapi memang betul, pantai ini berwarna pink.
Berbeda dengan kebanyakan pantai di Lombok atau Indonesia. Koral-Koral berwarna pink yang terhempas ombak melebur dan bersatu bersama pasir. Jumlahnya yang banyak membuat campuran pantainya jadi terlihat pink. Rasa lelah kami selama di jalan kini terobati.
Langit yang cerah membuat suasana menjadi terasa segar dan damai. Di bibir pantai terlihat beberapa perahu kecil yang bersandar. Karena laut tenang dan nyaris tidak berombak, tebing-tebing dan gili-gili kecil di kejauhan seolah memangil-manggil.
Hasrat berkeliling pantai dengan naik perahu sudah tak bisa ditunda lagi. Kami pun memutuskan untuk menyewa perahu. Dengan bahasa daerah Sasak sebagai modal menawar, mencari belas kasih turis lokal, saya coba berkomunikasi dengan nelayan.
Ya, kami berenam, semantara perahu kecil ini biasanya hanya mengangkut empat orang dan tak lebih. Takut terbalik, begitu kata seorang nelayan. Dengan modal nekat dan alasan perjalanan jauh, maka saya berhasil membuat kesepakatan. Rp 50.000 saja untuk berkeliling sepuasnya.
Tak henti-hentinya kami merasa takjub dengan pemandangan laut dan pantai di sekitar Pantai Pink. Di balik karangnya, tersembunyi pantai-pantai yang nyaris tak terjamah. Tak ada warung dan kendaraan yang terparkir. Seolah semua panorama ini menjadi serpihan surga yang tercecer ketika Tuhan membuatnya.
Kami menuju Gili Tiga, gili yang tak berpenghuni. Tak ada manusia atau binatang seperti anjing dan kucing di sana. Hanya ada kami yang datang menempuh jarak dan berkali-kali bertanya menuju lokasi ini.
Pantai di Gili Tiga berpasir putih pink dengan campuran bebatuan-babatuan kecil berpermukaan halus. Permukaan pantainya nyaman diinjak dan tak membuat lecet kaki. Kami memasuki pulau, naik ke dataran yang agak tinggi di dekat gua kecil. Di salah satu spot kami berfoto dengan latar laut, pulau atau tebing yang bisa kami pilih semaunya.
Usai berkeliling di pulau kecil nan indah ini, kami kembali naik perahu dan berputar di sekitar pantai lainnya. Pantai-pantai yang saya lupa namanya. Sulit rasanya menghapal beberapa nama pantai asing tesebut.
Di tengah laut, kami merasa menyesal sebab tak membawa alat snorkeling, ingin rasanya menceburkan diri dan menikmati pemandangan bawah laut yang indah tersebut. Akan nyaman sekali rasanya kalau saya tinggal dua atau tiga hari, membawa alat snorkeling atau diving. Saya pasti akan menikmati surga bawah laut yang tak banyak dilihat orang. Daerah ini terpencil, jauh dari wisatawan yang biasa berkunjung ke tempat-tempat wisata populer.
Melewati laut yang dingin, tenang, serta jernih, kami bisa menyaksikan ikan-ikan saling berkejaran bergerombol. Karang laut dan beberapa binatang, seperti binatang laut yang ada di dasar laut juga bisa dilihat dengan jelas. Sembari menyaksikan juga tebing-tebing dengan air yang surut, beberapa bongkah batu besar di tengah laut atau pulau-pulau seluas 25 m2.
Usai itu, kami pun kembali ke Pantai Pink. Sejenak kami kembali menikmati pantai, mengusir dahaga dengan minuman. Kemudian dilanjutkan dengan berkemas dan bersiap pulang. Setelah bersiap untuk bergegas pulang kami pun berencana menuju rumah salah satu dari rekan kami rumahnya tidak begitu jauh dari pantai pink. Setelah beberapa jam akhirnya kami pun sampai di tempat salah satu rekan kami selang beberapa menit kemudian kami di suguhkan dengan makanan khas orang pesisir yaitu ikan dan beberapa jenis ikan lainnya.

KATA-KATA SAMBUTAN



Nama   : SUKRIAN
Nim     : 153.111.088


SAMBUTAN ACARA AQIQAH
Assalamualaikum warohmatullahi Wabarokatuh
            Puji syukur sama-sama kita panjatkan kepada Allah swt yang mana pada hari ini kita dapat bertemu dalam rangka kita sama-sama menghadiri acara aqiqah.
            Shalawat dan salam kepada junjungan kita Nabi besar Muhammad Saw yang telah membimbing dan mendidik kita sehingga kita bisa hikrah dari alam kegelapan kepada alam yang terang benderang yaitu Dinnul islam.
            Bapak-bapak dan ibu-ibu yang saya hormati pada kesempatan ini izinkanlah kami atas nama keluarga menyampaikan sekapur sirih yaitu terutama kepada kita yang hadir disini semoga kita senantiasa mendapat ampunan dari Allah swt.
            Selanjutnya kami atas nama keluarga menyampaikan terima kasih kepada bapak ibu saudara yang telah sudi kiranya mengahadiri undangan kami pada pagi hari ini, namun tentu kita sebagai manusia, kami dari keluarga dalam penyambutan bapakbapak dan ibu-ibu dari sejak hadir sampai saat ini mungkin ada terdapat kekeliruan dan kekhilapan oleh karena kita manusia adalah sesuai dengan hadis nabi saw yang berbunyi :



            “Manusia itu tidak luput dari kesalahan dan Lupa”
            Oleh karena itu mungkin ada kesalahan dalam penyambutan sampai dengan berakhirnya acara nanti kami atas nama keluarga dan atas nama pribadi mohon maaf yang sebesar-besarnya dan tak lupa pula kita ucapkan terima kasih kepada bapak-bapak dan para saudara semua yang telah membantu kami sehingga acara ini bisa berjalan dengan lancar walaupun sungguh amat sangat sederhana. Oleh karena itu bapak-bapak dan ibu-ibu Aqiqah menurut bahasa artinya, “semblihan” atau “pemotongan”. Inilah arti yang dipilih oleh Imam Ahmad bin hambal sehingga beliau berkata : “Aqiqah itu (artinya) tidak lain melainkan semblihan itu sendiri” menurut syara’ ialah penyemblihan binatang ternak pada hari ketujuh dari kelahiran anak laki-laki ataupun perempuan. Pada hari itu anak diberi nama yang baik dan rambut kepalanya dicukur.
Rasulullah SAW bersabda : Dari samurah ra, sesungguhnya Rasulullah SAW telah bersabda : “setiap anak yang baru lahir tergadai (menjadi tanggungan) dengan aqiqahnya sampai disembelih (aqiqah) itu untuknya pada hari ketujuh, dicukur dan diberi nama” (HR. Ahmad).
Jadi, Aqiqah adalah sembelihan demi mensyukuri kelahiran jabang bayi, yang telah dilaksanakan pada hari ketujuh karena Allah swt.
Adapun Hikmah disyari’atkannya aqiqah adalah mensyukuri ni’mat Allah yang telah mengaruniai jabang bayi, mengikuti sunnah Nabi Muhammad SAW. untuk menyiarkan nasab atau garis keturunan pada khalayak, untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT, agar anak yang diaqiqahi dengan doa para jamaah menjadi anak yang shaleh dan bernakti kepada Allah swt dan kedua orang tua, untuk menumbuhkan kepekaan sosial terhadap fakir miskin, untuk menumbuhkan rasa rela berkorban dalam menjalankan perintah Allah SWT dan Rasul-Nya, untuk menumbuhkan rasa persaudaraan diantara sanak famili dan kerabat saudara, dengan mengundang mereka pada pesta aqiqah tersebut, juga sebagai media dakwah kepada saudara kita yang kaya , agar mereka dapat mendekatkan diri kepada Allah dan memiliki kepekaan sosial terhadap du’afa’. Asapun hikmah daripada aqiqah yang di kemukakan oleh DR. Abdullah Nashih Ulwan Dalam bukunya Tarbiyatul Aulad FI Al-Islam diantaranya yaitu:
a.       Aqiqah merupakan suatu pengorbanan yang akan mendekatkan anak kepada Allah dimasa awal ia menghirupkan udara kehidupan.
b.      Aqiqah merupakan tebusan bagi anak datri berbagai macam musibah, sebagaimana Allah telah menebus Ismail as., dengan hewan semblihan yang besar.
c.       Sebagai pembayaran hutang anak agar kelak dihari kiamat ia dapat memberikan syafaat kepada orang tuanya.
d.      Merupakan media untuk menunjukkan rasa syukur atas keberhasilan melaksanakan syari’at islam dan bertambahnya generasi mukmin.
e.       Memper erat tali persaudaraan di antara sesama anggota masyarakat. Dalam hal ini  aqiqah bisa menjadi wahana bagi berlangsungnya komunikasi dan intraksi sosial.

Demikian beberapa hikmah yang ada dibalik aqiqah, disamping tentu masih banyak hikmah-hilmah lainnya yang tidak sempat dikemukakan disini atau bahkan masih tersimpan dalam rahsia Allah yang memang tak terhingga, namun dari uraian di atas kiranya dapat simpulkan, bahwa dengan segala peraturan dan hukum-hukum Nya, Allah sama sekali tidak hendak menyulitkan atau membebankan manusia, Allah bahkan tidak membutuhkan apapun dari manusia. Semua yang diperintah dan dilarang-Nya adalah untuk kemaslahatan Manusia.
Demikia kata sambutan yang saya sampaikan saya pribadi atas nama keluarga yang telah berdiri dihadapan para hadirin mengucapkan mohon maaf atas segla kekurangan dan terima kasih.
Wallohul Muafiq Ila Aqwamittoriq Wassalamualaikum Warohmatulahi Wabarokatuh.

MAKALAH JURNALISTIK ISLAM



Makalah

PENGANTAR ILMU JURNALISTIK
“Jurnalistik Islam”





Diajukan untuk Memenuhi Tugas Mata Kuliah
Pengantar Ilmu Jurnalistik yang Dibina oleh
Dr. Fahrurrozi, SS.,MA



OLEH:

YULI SUSANTI                                      NIM. 15.3.11.1.075
SUKRIAN                                   NIM. 15.3.11.1.0



JURUSAN KOMUNIKASI PENYIARAN ISLAM (KPI)
FAKULTAS DAKWAH
INSTITUT AGAMA ISLAM NEGERI (IAIN) MATARAM
2012
KATA PENGANTAR

          Puji Syukur penulis panjatkan kapada Allah SWT. yang telah melimpahkan karunia-Nya kepada penulis, sehingga makalah ini dapat  diselsaikan. Shalawat serta salam semoga senantiasa tercurahkan kapada junjungan alam baginda Nabi Muhammad SAW. Karena hanya dengan jasa-jasa beliaulah sehingga kita bisa menikmati, nikmatnya iman dan islam.
          Makalah ini penulis susun sebagai salah syarat untuk memenuhi tugas mata kuliah Pengantar Ilmu Jurnalistik. Penulis menyadari sepenuhnya bahwa dalam menyusun makalah ini penulis tidak lepas dari bantuan berbagai pihak. Oleh karena itu, pada kesempatan ini perkenankanlah penulis mengucapkan rasa terima kasih penulis kepada:
1.      Bapak Dr. Fahrurrozi, SS.,MA selaku dosen  Pengampu mata kuliah Pengantar Ilmu Jurnalistik atas  segala  bimbingan,  pengarahan  dan  waktu  serta motivasinya bagi penulis.
2.      Singkatnya ucapan terima kasih penulis sampaikan pula kepada teman-teman dan semua pihak yang telah membantu dalam penyusunan makalah ini baik secara material atau dalam bentuk sumbangan moril.
            Di antara keistimewaan yang mungkin ada dalam makalah ini, tentunya juga terselip beberapa atau bahkan banyak kesalahan dan kekurangan yang penulis lakukan baik secara sengaja atau tidak penulis sengaja. Melalui kesempatan ini pula penulis mengharapkan dan senantiasa akan menerima kritik atau saran dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini.
          Akhirnya, hanya ini yang dapat penulis sampaikan sebagai pengantar dari makalah ini, semoga makalah ini bermanfaat, dan dapat dijadikan sebagai bahan penambah ilmu pengetahuan bagi kita semua. Amin.

                                    Mataram,...20 November 2012

Penulis
DAFTAR ISI

HALAMAN SAMPUL.......................................................................................... i
KATA PENGANTAR.....................................................................................      ii
DAFTAR ISI...................................................................................................      iii
BAB I.   PENDAHULUAN
1.1  Latar Belakang Penulisan Makalah...................................................................
1.2  Rumusan Masalah.............................................................................................
1.3  Tujuan Penulisan Makalah................................................................................

BAB II.  PEMBAHASAN
2.1  Pengertian Jurnalistik Islam..............................................................................
2.2  Perkembangan Jurnalistik Islam.................................................................      
2.3  Urgensitas Jurnalistik Islam........................................................................
2.4  Spesifikasi Jurnalistik Islam........................................................................
2.5  Problematika Jurnalistik Islam....................................................................
2.6  Wartawan Muslim, Sifat, dan Kewajiban.........................................................

BAB III.            PENUTUP
3.1  Kesimpulan  ...............................................................................................
3.2  Kritik dan Saran................................................................................................

DAFTAR PUSTAKA








BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang Masalah
               Salah satu masalah besar Islam pada era informasi sekarang ini adalah tidak dimilikinya suatu media massa yang memadai bagi mereka, untuk menegakkan dan memperjuangkan nilai-nilai Islam, atau membela kepentingan agama dan umat Islam. Akibatnya, yang terjadi tidak hanyakurang tersalurkannya aspirasi umat, tetapi juga umat Islam hanya menjadi konsumen dan rebutan media massa lain yang tak jarang membawa informasi yang menyesatkan bagi mereka.
      Tampaknya, sudah menjadi Sunnatullah, agama dan umat Islam selalu mendapatkan berbagai serangan atau tantangan, dari mereka yang tidak menyukai Islam, khususnya Barat ( kaum kuffar Salibis-Zionis). Dan tak dapat dipungkiri, Barat dewasa ini menguasai era informasi ini dengan segala keunggulan system, teknik, dan media informasinya yang tersebar luas dan menjangkau seluruh dunia.
      Pers Barat senantiasa berupaya memanipulasi atau merekayasa pemberitaan tentang agama dan umat Islam, dengan tujuan memojokkan posisi Ialam di arena Internasional. Lebih dari itu, media massa Barat dan agen-agennya gencar mensosialisasikan nilai-nilai, pemikiran, dan budaya merekake dunia Islam, agar pola pikir dan gaya hidup umat Islam cenderung lebih berkiblat ke Barat daripada taat pada aturan Islam. Tidak heran, jika isme-isme seperti materialism,sekularisme, nasionaliasme dan hedonism mewabah di kalangan masyarakat Islam, diiringi terjdinya pemujaan terhadap segala hal yang berbau atau dating dari Barat, berkat kekuatan promosi dan setting media informasi mereka.
      Memang, pada era informasi ini umat Islam tengah dilanda invansi pemikiran dan budaya Barat. Dunia Islam tampak tidak berdaya menghadapi serangan pers Barat, yang bermisi menjauhkan umat Islam dari ajaran agamanya dan membuat opini umum (public opininion) atau kesan (image) yang buruk tentang Islam.
      Melihat bagaimana tipu daya Barat terhadap dunia Islam, dalam hal ini melalui media massanya, umat Islamharus semakin kritis dan sadar dalam menyerap imformasi yang tiaphari menerpa mata dan telinga kita. Kini, salah satu jawaban terhadap berbagai tantangan yang dihadapi umat Islam tersebut adalah menumbuhkembangkan jurnalistik Islami, atau menjadikan jurnalistik Islami sebagai “ idiologi” jurnalis Mauslim., demi membela kepentingan Islam dan umatnya,juga mensosialisasikan nilai-nilai Islam sekaligus meng-counter  dan mem-filter  derasnya arus informasi jahili dan Barat.
      Mengacu pada pengertian jurnalistik secara umum, yakni suatu proses meliput,mengolah, dan menyebarluaskan peristiwa (berita,news) atau opini/pandangan kepada masyarakat luas, maka jurnalistik Islami dapat dimaknakan sebagai “suatu proses meliput mengolah, dan menyebarluaskan beerbagai peristiwa dengan muatan nilai-nilai Islam, khususnya yang menyangkut agama dan umat Islam kepada khalayak,serta berbagai pandangan dengan perspektif ajaran Islam.”
      Dengan demikian, meminjam istilah Dedi Djamaluddin Malik (1989:198), jurnalistik Islami lebih tepat dikatakan sebagai crusade journalism, yaitu jurnalistik yang memperjuangkan nilai-nilai tertentu,yakni nilai-nilai Islam.
      Jurnalistik Islami mengemban misi ‘amar ma’ruf nahi munkar’. Maka ciri khaasjurnalistik islami adalahg menyebarluaskan informasi tentang perintah dan larangan Allah Swt. Ia memberikan message dan berusaha keras untuk mempengaruhi komunikan atau khalayak,agar berprilaku sesuaidengan ajaran Iaslam.
Jurnalistik Islami tentu saja menghindari gambar-gambar ataupun ungkapan-ungkapan pornografs, menjauhkan promosi kemaksiatan, atau hal-hal yang bertentangan dengan syariat Islam, seperti fitnah, pemutarbalikkan fakta, berita bohong, mendukung kemungkaran, dan sebagainya. Jurnalistik Islami harus mempengarahui khalayak agar menjauhi kejahatan, perilaku destruktif, dan menawarkan solusi islami atas setiap masalah. Allah Swt. Tlah mengingatkan,
“hai orang-orang yang beriman, jika datang padamu orang-orang fasik membawa suatuberita,maka periksalah dengan teliti agar kamu tidak menimpakan suatu musibah pada suatu kaum tanpa mengetahui keadaanya…”( Q.S. 49:6).
     


1.2 Rumusan Masalah
Dari uraian yang telah disampaikan pada latar belakang di atas, adapun rumusan masalah yang dapat di susun ialah:
1.      Apakah pengertian dari Jurnalistik Islam?
2.      Bagaiman Perkembangan Jurnalistik Islam?
3.      Apakah urgensitas Jurnalistik Islam?
4.      Apakah problematika Jurnalistik Islam?
5.      Siapkah yang dimaksud wartawan Muslim dan bagaimana sifat dan kewajibannya?

1.3 Tujuan
            Adapun tujuan dari penulisan makalah ini adalah:
1.      Untuk mengetahui pengertian dari Jurnalistik Islam?
2.      Untuk mengetahui Perkembangan Jurnalistik Islam?
3.      Untuk mengetahui urgensitas Jurnalistik Islam?
4.      Untuk mengetahui problematika Jurnalistik Islam?
5.      Untuk mengetahui wartawan Muslim dan bagaimana sifat dan kewajibannya?













BAB II
PEMBAHASAN
2.1 Pengertian Jurnalistik Islam
            Beberapa tokoh mendefinisikan jurnalistik Islam antara lain:
     Emha Ainun Nadjib menyatakan bahwa jurnalistik islam adalah tekhnologi dan sosialisasi informasi ( dalam kegiatan penerbitan tulisan) dan mengabdikan diri pada nilai agama islam bagaimana dan kemana semestinya manusia, masyarakat, kebudayaan dan peradaban mengarahkan dirinya.
     Sedangkan A. Muis mengatakan bahwa jurnalistik Islam adalah menyebarkan atau menyampaikan informasi kepada pendengar,pemirsa, atau pembaca tentang perintah dan larangan Allah Swt ( Al-Qur’an dan Al-Hadist).
     Sementara itu Dedy Djamaluddin Malik mendefinisikan jurnalistik Islam sebagai proses meliput, mengolah dan menyebarluaskan berbagai peristiwa yang menyangkut umat Islam kepada khalayak. Jurnalistik Islami adalah crusade journalism, yaitu jurnalistik yang memperjuangkan nilai-nilai tertentu, yakni nilai-nilai Islam.
     Asep Syamsul Ramli menjelaskan bahwa jurnalistik Islam adalah proses pemberitaan atau pelaporan tentang berbagai hal yang saratdengan muatan nilai-nilai Islam.
     Sup Kasman menyebutkan bahwa jurnalistikIslam adalh proses meliput, mengolah, dan menyebarluaskan berbagai peristwa dengan muatan nilai-nilai Islam dengan mematuhi kaidah-kaidah jurnalistik/norma-norma yang bersumber dari Al-Qur’an dan Al-Sunnah Rasulullah Saw. Jurnalistik islami diutamakan kepada dakwah islamiyah yaitu mengemban misi amar ma’ruf nahi munkar sesuai ayat Q.S Ali Imran (3:104).1

                                                    
     1Fahrurrozi, Tasamuh Jurnal Kajian-Kajian Ilmu Dakwah:Al-Qur’an dan Praktek Jurnalisme, vol. 7 (Fakultas Dakwah IAIN Mataram, 2010), 101-102.


2.2 Perkembangan Jurnalistik Islam
                 Dalam sejarah Islam, cikal bakal jurnalistik yang pertama kali di dunia adalah pada zaman Nabi Nuh. Saat banjir besar melanda kaumnya, Nabi Nuh berada di dalam kapal beserta sanak keluarga, para pengikut yang saleh, dan segala macam hewan. Untuk mengetahui apakah air bah sudah surut, Nabi Nuh mengutus seekor burung dara ke luar kapal untuk memantau keadaan air dan kemungkinan adanya makanan. Sang burung dara hanya melihat daun dan ranting pohon zaitun yang tampak muncul ke permukaan air. Ranting itu pun dipatuk dan dibawanya pulang ke kapal. Nabi Nuh pun berkesimpulan air bah sudah mulai surut. Kabar itu pun disampaikan kepada seluruh penumpang kapal.
     Atas dasar fakta tersebut, Nabi Nuh dianggap sebagai pencari berita dan penyiar kabar (wartawan) pertama kali di dunia. Kapal Nabi Nuh pun disebut sebagai kantor berita pertama di dunia.
     Berbagai literatur tentang sejarah jurnalistik senantiasa merujuk pada “Acta Diurna” pada zaman Romawi Kuno masa pemerintahan kaisar Julius Caesar (100-44 SM). Acta Diurna”, yakni papan pengumuman (sejenis majalah dinding atau papan informasi sekarang), diyakini sebagai produk jurnalistik pertama; pers, media massa, atau surat kabar harian pertama di dunia. Julius Caesar pun disebut sebagai “Bapak Pers Dunia”. Sebenarnya, Caesar hanya meneruskan dan mengembangkan tradisi yang muncul pada permulaan berdirinya kerajaan Romawi. Saat itu, atas peritah Raja Imam Agung, segala kejadian penting dicatat pada “Annals”, yakni papan tulis yang digantungkan di serambi rumah. Catatan pada papan tulis itu merupakan pemberitahuan bagi setiap orang yang lewat dan memerlukannya.
     Saat berkuasa, Julius Caesar memerintahkan agar hasil sidang dan kegiatan para anggota senat setiap hari diumumkan pada “Acta Diurna”. Demikian pula berita tentang kejadian sehari-hari, peraturan-peraturan penting, serta apa yang perlu disampaikan dan diketahui rakyatnya. Papan pengumuman itu ditempelkan atau dipasang di pusat kota yang disebut “Forum Romanum” (Stadion Romawi) untuk diketahui oleh umum. Berita di “Acta Diurna” kemudian disebarluaskan. Saat itulah muncul para “Diurnarii”, yakni orang-orang yang bekerja membuat catatan-catatan tentang hasil rapat senat dari papan “Acta Diurna” itu setiap hari, untuk para tuan tanah dan para hartawan.
     Dari kata “Acta Diurna” inilah secara harfiah kata jurnalistik berasal yakni kata “Diurnal” dalam Bahasa Latin berarti “harian” atau “setiap hari.” Diadopsi ke dalam bahasa Prancis menjadi “Du Jour” dan bahasa Inggris “Journal” yang berarti “hari”, “catatan harian”, atau “laporan”. Dari kata “Diurnarii” muncul kata “Diurnalis” dan “Journalist” (wartawan).2

2.3 Urgensitas Jurnalistik Islam
            Pers memiliki peran yang cukup besar dalam merekayasa pola kehidupan suatu masyarakat. termasuk salah satunya, dalam memberikan pengetahuan dalm membingkai pengalaman keagamaan. Sebab, meskipun agama lahir
2.4 Problematika Jurnalistik Islam
     Dewasa ini, dapat dikatakan pers Islam kalah unggul dan kalah pamor oleh pers umum. Banyak factor yang mengakibatkan lemah dan terpinggirkannya pers Islam, antara lain:
1.      Kurang atau lemahnya dukungan dana.
2.      Lemahnya manajement akibat kurang/tidak profesionalnya para pengelola,sehingga gaya bahasa, tekhnik penulisan, pemilihan dan pemilahan topic, serta tampilan produk termasuk perwajahan kurang atau tidak menarik perhatian dan minat membaca orang.
3.      Masih lemahnya kesadaran informative umat islam akan masalah-masalah keislaman. Mereka masih lebih tertarik oleh informasi non-Islam, atau lebih senang membaca/membeli pers umum.

Untuk mengatasi problematika tersebut maka diperlukan peranan para jurnalis Muslim dan media massa yang akan menjadi wadahnya.




2.4 Wartawan Muslim, Sifat, dan Kewajibannya
     Menurut Asep Syamsul M. Romli jurnalis muslim adalah sosok juru dakwah (da’i) di bidang pers, yakni mengemban dakwah bil qolam ( dakwah melalui tulisan). Ia adalah jurnalis yang terikat oleh nilai-nilai, norma, dan etika Islam.
       Jurnalis muslim laksana “penyambung lidah” para nabi dan ulama. Karena itu, iapun dituntut untuk memiliki sifat-sifat kenabian, seperti shidiq, amanah, Tabligh, dan Fathonah.
     Shidiq artinya benar, yakni menginformasikan yang benar saja dan membela serta menegakkan kebenaran itu. Standar kebenarannya tentu saja kesesuaian dengan ajaran Islam al-Qur’an dan As-Sunnah.
     Amanah artinya terpercaya, karenanya tidak boleh berdusta, memanipulasi atau mendistorsi fakta, dan sebagainya.
     Tabligh artinya menyampaikan,yakni menginformasikan kebenaran, tidak menyembunyikannya.
     Fathonah artinya cerdaas dan berwawasan luas. Jurnalis muslim dituntut mampu menganalisis dan membaca situasi, termasuk membaca apa yang diperlukan umat.

Setidaknya ada lima peranan jurnalis Muslim, yaitu:
1. Sebagai pendidik (Muaddib), yaitu melaksanakan fungsi edukasi yang Islami. Ia harus lebih menguasai ajarabn Islam dan rata-rata khalayak pembaca. Lewat media massa, ia mendidik umat Islam agar melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Ia memikul tugas mulia untuk mencegah umat Islam dari berperilaku yang menyimpang dari syariat Islam, juga melindungi umat dari pengaruh buruk media massa non-Islami yang anti-Islam.
2. Sebagai Pelurus Informasi (Musaddid). Setidaknya ada tiga hal yang harus diluruskan oleh para jurnalis Muslim. Pertama, informasi tentang ajaran dan umat Islam. Kedua, informasi tentang karya-karya atau prestasi umat Islam. Ketiga, lebih dari itu jurnalis Muslim dituntut mampu menggali –melakukan investigative reporting– tentang kondisi umat Islam di berbagai penjuru dunia. Peran Musaddid terasa relevansi dan urgensinya mengingat informasi tentang Islam dan umatnya yang datang dari pers Barat biasanya biased (menyimpang, berat sebelah) dan distorsif, manipulatif, alias penuh rekayasa untuk memojokkan Islam yang tidak disukainya. Di sini, jurnalis Muslim dituntut berusaha mengikis fobi Islam (Islamophobia) yang merupakan produk propaganda pers Barat yang anti-Islam.
3. Sebagai Pembaharu (Mujaddid), yakni penyebar paham pembaharuan akan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam (reformisme Islam). Jurnalis Muslim hendaknya menjadi “jurubicara” para pembaharu, yang menyerukan umat Islam memegang teguh al-Quran dan as-Sunnah, memurnikan pemahaman tentang Islam dan pengamalannya (membersihkannya dari bid’ah, khurafat, tahayul, dan isme-isme asing non-Islami), dan menerapkannya dalam segala aspek kehidupan umat.
4. Sebagai Pemersatu (Muwahid), yaitu harus mampu menjadi jembatan yang mempersatukan umat Islam. Oleh karena itu, kode etik jurnalistik yang berupa impartiality (tidak memihak pada golongan tertentu dan menyajikan dua sisi dari setiap informasi [both side information] harus ditegakkan. Jurnalis Muslim harus membuang jauh-jauh sikap sektarian yang baik secara ideal maupun komersial tidaklah menguntungkan (Jalaluddin Rakhmat dalam Rusjdi Hamka & Rafiq, 1989).
5. Sebagai Pejuang (Mujahid), yaitu pejuang-pembela Islam. Melaui media massa, jurnalis Muslim berusaha keras membentuk pendapat umum yang mendorong penegakkan nilai-nilai Islam, menyemarakkan syiar Islam, mempromosikan citra Islam yang positif dan rahmatan lil’alamin, serta menanamkan ruhul jihad di kalangan umat.3
                                                    
2http//:www.AnneAhira.com/sejarah- perkembangan- jurnalistik/
3Asep Syamsul M. Ramli, Jurnalistik Praktis untuk Pemula cet. 7 (Bandung: Remaja Rosdakarya, 2006).
BAB III
PENUTUP
3.1 Kesimpulan
     Berdaasarkan dari pembahasan di atas maka kita dapat menyimpulkan bahwa jurnalistik Islam merupakan proses pemberitaan atau pelaporan tentang berbagai hal yang sarat dengan muatan nilai-nilai Islam.
Setidaknya ada lima peranan jurnalis Muslim, yaitu:
1. Sebagai pendidik (Muaddib), yaitu melaksanakan fungsi edukasi yang Islami. Ia harus lebih menguasai ajarabn Islam dan rata-rata khalayak pembaca. Lewat media massa, ia mendidik umat Islam agar melaksanakan perintah Allah SWT dan menjauhi larangan-Nya. Ia memikul tugas mulia untuk mencegah umat Islam dari berperilaku yang menyimpang dari syariat Islam, juga melindungi umat dari pengaruh buruk media massa non-Islami yang anti-Islam.
2. Sebagai Pelurus Informasi (Musaddid). Setidaknya ada tiga hal yang harus diluruskan oleh para jurnalis Muslim. Pertama, informasi tentang ajaran dan umat Islam. Kedua, informasi tentang karya-karya atau prestasi umat Islam. Ketiga, lebih dari itu jurnalis Muslim dituntut mampu menggali –melakukan investigative reporting– tentang kondisi umat Islam di berbagai penjuru dunia. Peran Musaddid terasa relevansi dan urgensinya mengingat informasi tentang Islam dan umatnya yang datang dari pers Barat biasanya biased (menyimpang, berat sebelah) dan distorsif, manipulatif, alias penuh rekayasa untuk memojokkan Islam yang tidak disukainya. Di sini, jurnalis Muslim dituntut berusaha mengikis fobi Islam (Islamophobia) yang merupakan produk propaganda pers Barat yang anti-Islam.
3. Sebagai Pembaharu (Mujaddid), yakni penyebar paham pembaharuan akan pemahaman dan pengamalan ajaran Islam (reformisme Islam). Jurnalis Muslim hendaknya menjadi “jurubicara” para pembaharu, yang menyerukan umat Islam memegang teguh al-Quran dan as-Sunnah, memurnikan pemahaman tentang Islam dan pengamalannya (membersihkannya dari bid’ah, khurafat, tahayul, dan isme-isme asing non-Islami), dan menerapkannya dalam segala aspek kehidupan umat.
4. Sebagai Pemersatu (Muwahid), yaitu harus mampu menjadi jembatan yang mempersatukan umat Islam. Oleh karena itu, kode etik jurnalistik yang berupa impartiality (tidak memihak pada golongan tertentu dan menyajikan dua sisi dari setiap informasi [both side information] harus ditegakkan. Jurnalis Muslim harus membuang jauh-jauh sikap sektarian yang baik secara ideal maupun komersial tidaklah menguntungkan (Jalaluddin Rakhmat dalam Rusjdi Hamka & Rafiq, 1989).
5. Sebagai Pejuang (Mujahid), yaitu pejuang-pembela Islam. Melaui media massa, jurnalis Muslim berusaha keras membentuk pendapat umum yang mendorong penegakkan nilai-nilai Islam, menyemarakkan syiar Islam, mempromosikan citra Islam yang positif dan rahmatan lil’alamin, serta menanamkan ruhul jihad di kalangan umat.

3.2 Saran
Semoga dengan membaca dan memahami isi makalah ini, kita benar-benar mengetahui dan memahami pengertian, peranan, problematika maupun sifat dan kewajiban sebagai wartawan muslim. Melalui kesempatan ini pula penulis mengharapkan dan senantiasa akan menerima kritik atau saran dari semua pihak demi kesempurnaan makalah ini.










DAFTAR PUSTAKA
Asep Syamsul M.Romli, Jurnalistik Praktis untuk Pemula. Bandung:Remaja Rosdakarya, 2006.
Fahrurrozi, Tasamuh jurnal Kajian Ilmu-Ilmu Dakwah:alQur’an dan Praktek Jurnalisme. Fakultas dakwah IAIN Mataram, 2010.

Internet:
http://www. AnneAhira.com/sejarah- perkembangan- jurnalistik/
http/;//romeltea.com